Selasa, 11 November 2008


Keindahan tersembunyi




Angker dan keramat......begitulah kesan kebanyakan orang terhadap gua, memang tidak salah apabila masyarakat beranggapan demikian, selain sebagai salah satu bentuk local wisdom akibat masih lekatnya nilai-nilai budaya dan kepercayaan nenek moyang, anggapan tersebut setidaknya turut menjaga gua dari tangan-tangan jahil manusia yang tidak bertanggungjawab.

Tanpa kita sadari....betapa banyak gua-gua yang tersebar di negeri kita ini, melalui proses yang sangat panjang gua-gua tersebut mulai terbentuk, dalam keheningan dan kegelapan abadi. Selama ribuan tahun air bekerja siang dan malam melarutkan gram demi gram batugamping, menoreh....memotong....mengikis, semua berjalan begitu tenang. Sungguh sangat berbeda dengan pembangunan mall-mall atau jembatan oleh manusia, begitu berisik dan terkadang mengganggu siapapun yang ada di sekitarnya.
Menelusuri gua, bagi manusia sebenarnya sangat membahayakan. Kondisi lorong gua yang berlumpur, berair dalam, sempit, gelap gulita dan kadang membentuk sumuran dengan kedalaman puluhan hingga ratusan meter memaksa setiap penelusurnya memiliki ketrampilan khusus, dari teknik penelusuran biasa hingga Single Rope Technique (teknik melewati tali tunggal). Ketrampilan khusus lain seperti berenang, panjat tebing dan menyelam akan sangat membantu setiap penelusur gua,
Beragam latar belakang ketika manusia memutuskan untuk menelusurinya, sekedar petualangan, pemetaan gua, penelitian ilmiah, survey kelayakan wisata, hingga penggalian potensi air bawah tanah, semuanya sah dilakukan selama pelakunya bertanggungjawab terhadap faktor keselamatan diri dan lingkungannya.

Bagian dari pilihan hidup
Sebagai seseorang yang memiliki hobi memotret, gua merupakan obyek yang sangat menarik perhatian saya selama ini. Kondisi medan yang serba ekstrem baik bagi penelusur maupun peralatan fotografi, membawa konsekuensi logis yang cukup berat, setidaknya kita harus merelakan properti kita berperang dengan kelembaban yang tinggi, belepotan lumpur, tercelup air dan kadang terbentur sesuatu, sehingga pilihan terakhir yang tidak bisa di tawar adalah mem-packing segala sesuatu yang berhubungan dengan pemotretan dengan ekstra baik.
Menyadari potensi bahaya yang ada merupakan sebuah langkah bijak, apapun bisa terjadi dalam penelusuran kita, karena itu penelusuran gua tidak bisa dilakukan seorang diri. Jumlah minimal yang direkomendasikan adalah 3-4 orang, masing-masing tentunya dengan 3 buah sumber cahaya (carbide lamp atau electric lamp) dan seperangkat alat safety seperti helm, sepatu boot, coverall serta SRT set untuk lorong vertikal.
Sebuah kamera SLR analog dengan lensa zoom 35-70 mm masih menjadi sahabat saya dalam pemotretan gua hingga saat ini, selain ringkas dan “bandel”, kebutuhan akan efisiensi pasca pemotretan masih belum begitu mendesak, meskipun beberapa kali eksperimen dengan kamera saku digital mampu memberikan hasil “bersaing” dalam hal kepraktisan maupun kualitas gambar. Bahkan secara jujur saya akui ada beberapa kelebihan pada kamera digital seperti kekayaan warna dan tingkat kekontrasan gambar yang lebih baik.

Open Flash
Jarak pandang yang hanya beberapa meter ke sekitar kita, dengan lorong yang terkadang hanya muat sebatas badan tidaklah begitu saja membuat seorang pemotret gua menyerah. Dunia fotografi sedemikian luwesnya, begitu fleksibel. Tidak ada satu kondisi pun yang tidak dapat didokumentasikan selama masih ada kemauan yang kuat dari fotografer.
Tiga buah flash yang telah dibungkus plastik transparan….dengan slave units, kamera yang terpasang pada modus bulb dan tersandar kokoh pada tripod, dengan satu komando dari fotografer, maka gambar demi gambar akan segera terekam.
“Open Flash” begitulah kita menyebutnya, tidak ada satu pun flash yang kontak dengan body kamera, sebagai gantinya rekan satu tim bertugas sebagai operator flash.
Pengarahan dari fotografer menjadi penting bagi operator flash, berkaitan dengan konsep foto yang direncanakan dan pencahayaan. Menjaga mood operator flash menjadi tantangan tersendiri bagi fotografer gua, karena bekerja dalam kondisi yang sulit dan tertekan oleh situasi dan kondisi akan cepat membuat sifat asli seseorang muncul ke permukaan.
Open flash membuat kita lebih leluasa memunculkan beberapa efek pencahayaan, termasuk kedalaman dimensi dalam gambar, frontlight….sidelight…backlight…atau bahkan kombinasi antara ketiganya. Dalam beberapa hal saya masih terkesima dengan efek dramatis yang dihasilkan oleh backlight.

Try and Error
Banyak hal yang akan memaksa kita beberapa kali harus menekan tombol shutter untuk obyek yang sama, faktor kegelapan total sering membuat hasil bidikan kita tidak fokus, penggunaan speed lambat membuat camera shake, kabut dari tubuh kita membuat flash tak mampu menembus objek dengan kualitas cahaya cukup sehingga gambar under exposure, dinding gua yang terlapisi mineral kalsit (yang berwarna putih) memantulkan cahaya berlebihan menyebabkan over exposure, kelembaban sering membuat kamera kita macet dan flash cepat lowbatt.
Ketenangan, kesabaran dan tim yang memahami konsep yang diinginkan fotografer setidaknya harus menjadi prioritas disamping faktor safety procedure penelusuran. Beberapa kali toleransi dan perubahan setting pencahayaan juga perlu di lakukan untuk mendapatkan hasil yang optimal.
Gua menyediakan semua hal yang menarik untuk di potret, bentuk lorong, ornamen gua, aktivitas penelusur, biota gua dan lain sebagainya. Namun jangan pernah terlena oleh dramatisnya hasil pemotretan kita di gua, karena setiap saat potensi bahaya selalu mengancam keselamatan jiwa kita dan rekan-rekan kita. Peraturan tak tertulis dalam kegiatan alam bebas mengatakan “Setiap langkah kita dari pintu rumah menuju alam liar membawa kita pada suatu batas tipis ketidakpastian” Selengkapnya...

FOTOGRAFI GUA

Pendokumentasian kegiatan penelusuran gua memerlukan persiapan yang lebih merepotkan daripada melakukan dokumentasi dilokasi lain. Dalam kesempatan kali ini bentuk dokumentasi yang akan kita lakukan adalah dokumentasi foto.

Kemajuan teknologi yang telah dicapai bidang fotografi dewasa ini sungguh amat mencengangkan, ditinjau dari beberapa hal, fotografi digital diakui atau tidak semakin jauh meninggalkan fotografi konvensional. Beberapa penggemar fotografi yang sebelumnya memutuskan untuk tetap mempertahankan kamera analognya, satu persatu runtuh dan akhirnya harus berdamai dengan keadaan, bermigrasi ke teknologi digital.

Tak terkecuali Fotografi Gua…

Hambatan terbesar yang masih harus dihadapi oleh fotografer gua adalah kondisi ektrem yang tidak pernah berubah dari dulu. Kondisi gelap total tanpa cahaya, kelembaban ekstra tinggi, lumpur, medan berair dan kabut yang seringkali muncul ketika sesi pemotretan berlangsung masih merupakan tantangan yang memiliki nilai tersendiri, terutama bagi mereka yang menggemari pemotretan bawah tanah ini.

Tak ada persyaratan khusus yang harus dimiliki oleh kamera untuk memotret didalam gua, meskipun secara ideal kamera yang ringkas, tahan air, tahan lumpur, tahan benturan dan memiliki pengaturan fungsi secara manual ketika dioperasikan baik sistem fokusnya ataupun sistem pengaturan pencahayaannya (exposure) masih menjadi dambaan fotografer gua, namun tak semua mampu memilikinya, karena dapat dipastikan kita harus mengeluarkan uang dengan nilai cukup tinggi untuk mendapatkan segala yang ideal tersebut.


Solusinya…marilah kita uji seberapa kreatifnya “sel-sel kelabu” kita, karena produsen kamera terbukti masih berbaik hati menyediakan fitur-fitur sederhana yang masih dapat kita manfaatkan untuk menyalurkan hobi kita, memotret dalam gua.

Kamera, yang relatif murah pun jadi….

Jika anda pengguna kamera Digital SLR (Single Lens Reflex), berbahagialah …karena dalam beberapa hal kamera jenis ini memang terbukti handal dalam fotografi bagaimanapun bentuk medannya, hanya tinggal keberanian anda membawanya menuju medan se-ektrem gua, tapi bagi anda yang hanya memiliki kamera digital pocket (kamera saku digital) atau kamera dari jenis compact digital, tak usah berkecil hati…kedua kamera dari jenis terakhir ini pun ternyata cukup bandel dalam menghasilkan gambar-gambar yang “cukup cantik” didalam gelapnya gua.

Yang kita butuhkan pada kamera jenis digital Pocket/Compact, hanyalah fitur yang mengatur kamera tersebut dapat membuka tirai rana-nya lebih lama dari 1 detik. Biasanya fitur ini tersimpan dalam modus pemotretan malam hari (Night Landscape), bisa juga kita mengaktifkan fitur ini hanya dengan mematikan “lampu kilat” internal dalam kamera kita, maka secara otomatis tirai rana dalam kamera kita akan ter-setting lebih lama dari atau setidaknya 1 de
Pada SLR digital (DSLR), tentu saja kita akan lebih leluasa dalam mengatur exposure yang kita inginkan, karena kamera jenis ini dilengkapi dengan fasilitas pengaturan exposure secara terpisah (speed dan diafragma) dengan rentang yang lebih luas dari kamera pocket/compact digital.

Aturlahfungsi kamera secara manual, matikan sistem autofokusnya, setting whitebalance sesuai sumber cahaya, gunakan ISO/ASA-nya dengan nilai yang terendah, (misalkan ISO 100), dan gunakan selftimer untuk mengaktifkan tombol shutternya sehingga bisa mengurangi goncangan yang akan membuat gambar kabur/blur, setting kualitas gambar pada nilai terbagus, kamera anda pun siap untuk digunakan.

Tripod, sahabat yang tidak boleh dilupakan…

Dalam setiap sesi pemotretan di gua, seorang fotografer seharusnya menyediakan sebuah tripod yang kokoh, ringan dan ringkas untuk dibawa-bawa. Tripod dengan bahan dasar karbon atau aluminium alloy merupakan pilihan terbaik karena ringan dan kuat. Usahakan mencari tripod yang memiliki kepala dengan ruang gerak lebih banyak, sehingga kita dapat dengan leluasa memposisikan kamera kita ketika hendak memotret.

Fungsi tripod ini adalah untuk menyangga kamera ketika pengambilan gambar berlangsung, sehingga kamera kita benar-benar tenang tidak ‘terintervensi” oleh gerakan tubuh kita, dan gambar yang kita ambil terekam tanpa adanya gambar yang blur karena camera shake.

Flash/lampu kilat tambahan

Lengkapi diri anda dengan beberapa lampu kilat tambahan, setidaknya 2 atau 3 buah. Carilah lampu kilat yang memiliki GN (Guide Number) besar serta dapat dioperasikan secara manual, jika kondisi finansial mendukung, flash/lampu kilat yang memiliki ”built in slave” (pemicu nyala terintegrasi) akan lebih praktis daripada anda menggunakan slave unit yang terpisah, keuntungannya adalah kita dapat meminimalkan kontak arus terbuka sehingga meminimalkan kemungkinan korlseting ketika flash kita nyalakan di tempat yang memiliki kelembaban tinggi.

Bungkuslah masing-masing flash ini dengan plastik transparan, dan sisipkan 2 buah silika gel untuk mengantisipasi kelembaban berlebih dalam flash kita. Periksa secermat mungkin dan usahakan jangan ada kebocoran pada plastik pembungkus flash kita.

Kenali kekuatan cahaya masing-masing flash (dapat kita baca pada tabel dibelakang flash atau dengan membaca seri yang terdapat dibagian depan), tentukan mana mainflash kita dan mana yang akan digunakan sebagai fill in flash.

Fotografi Kit…

Yang satu ini, tentunya secara logika sudah dapat ditebak, perlengkapan pendukung pemotretan. Banyak fotografer melewatkan momen-momen berharganya ketika terkendala dengan permasalahan-permasalahan yang sebenarnya dapat diantisipasi sewaktu persiapan, seperti kehabisan batere kamera/flash, kehabisan film/memory card, lensa kamera berembun, tertutup lumpur, tertetesi air atau kamera macet dan ngambek, dan lain sebagainya.

Dalam fotografi gua, selain peralatan utama sebagaimana diatas, fotografer gua harus melengkapi dirinya dengan fotografi kit yang terdiri atas kotak kedap air (jika tidak ada dapat digantikan dengan ammobox/kotak peluru milik TNI), tissue lensa, senter kecil, lap tangan, batere cadangan untuk kamera dan flash, payung kecil, plastik transparan cadangan, selotip, pisau lipat atau gunting serta silika gel, jika ingin lebih nyaman lagi, fotografer hendaknya memakai sarung tangan karet yang dapat menjaga tangannya tetap kering dan bersih saat mengoperasikan kamera.

Mencapai hasil maksimal dengan “Tim Work”

Pemotretan didalam gua membutuhkan tim yang solid, inilah yang menjadi tugas berat fotografer selain “urusan teknis” fotografi. Dalam kondisi ideal, setidaknya seorang fotografer membutuhkan 2 – 4 orang asisten, namun ini jumlah tentatif, tergantung berapa banyak sumber cahaya yang akan kita gunakan.

Satu orang bertindak sebagai pendamping fotografer dalam mempersiapkan peralatan memotretnya, selebihnya menjadi operator flash. Menjaga suasana hati tim bukanlah perkara yang mudah, karenanya setidaknya asisten yang membantu fotografer memiliki keahlian dibidang penelusuran gua serta memahami instruksi fotografer tentang bagaimana pencahayaan dilakukan terhadap objek.

Salah satu hal penting yang harus dilakukan oleh fotografer adalah memberikan arahan tentang teknis pengambilan gambar, fotografer harus memaparkan kepada seluruh anggota timnya bagaimana hasil yang diinginkannya, termasuk arah dan sudut pencahayaan, serta jarak sumber cahaya ke objek. Jika semua flash dilengkapi pemicu otomatis (slave unit) tentunya akan semakin memudahkan fotografer, tetapi seorang fotografer juga harus membuat suatu kode-kode tertentu yang harus dipahami oleh anggota timnya berkenaan dengan pengoperasian sumber cahaya/flash.

Mulai memotret…

Setelah semua persiapan beres, masuklah kedalam gua (jumlah minimal yang direkomendasikan adalah 4 orang) sampaikan kepada seluruh tim jika anda ingin mendokumentasikan sesuatu, sebuah ornamen yang menarik misalnya.

Sebelum anda memutuskan mengeluarkan kamera dari “tempat aman”, telitilah sekali lagi apakah tempat anda berpijak benar-benar aman bagi anda maupun properti anda. Letakkan kamera pada tripod, aturlah komposisi sedemikian rupa dengan menggunakan bantuan cahaya yang tim anda bawa (masing-masing orang diharapkan membawa minimal 2 sumber cahaya beserta cadangan energinya), bagi anda yang tidak terbiasa akan terasa sangat sulit meletakkan dimana objek anda seharusnya di dalam frame, apalagi ketika anda mengatur titik fokus. Pengguna DSLR dengan lensa yang memiliki gelang pengukur jarak akan lebih mudah dalam memfokuskan benda yang akan dibidiknya, tapi jika anda masih ragu…gunakan saja diafragma kecil (misal bukaan 8 atau 11).

Untuk kamera pocket/compact, tentu saja akan susah untuk menghindari penggunaan autofolus, yakin saja…pencet tombol release setengah dan pertahankan sampai kamera mengeluarkan indikator bahwa objek telah fokus, bisa dengan suara atau indikator lampu, jangan lupa atur kamera pada modus landscape, pada modus ini kamera anda akan dipaksa untuk menggunakan diafragma sempit sebagaimana layaknya kamera SLR.

Aturlah tim anda dengan masing-masing flash yang dibawa, tentukan dari sebelah mana objek akan anda cahayai, untuk lebih mudahnya…tentukan dulu mana mainflash anda, kemudian letakkan flash-flash alain untuk mengisi ruang-ruang gelap tentunya dengan intensitas cahay yang lebih lemah dibandingkan flash utama anda. Kemudian tekanlah tombol release anda setelah terlebih dulu mengaktifkan self timer pada kamera…ketika tirai rana membuka nyalakan seluruh flash anda (pada kamera pocket digital yang tidak memiliki pengaturan speed manual, jeda buka tirai rana akan sangat sempit waktunya, cahayailah segera begitu terdengar tirai rana membuka). Setelah tirai menutup…anda bisa melihat hasilnya pada LCD kamera, jika kurang puas…bisa anda ulangi lagi dengan merubah-rubah posisi pencahayaan sesuai keinginan/konsep yang ingin anda munculkan.

Praktis dan cukup mudah,
Selamat berkarya….

Diposkan oleh AB Rodhial
Selengkapnya...

Mengenal Gua

Gua (atau disebut “goa” dalam beberapa media cetak) merupakan sebuah bentukan alami berupa ruangan dibawah tanah baik yang berdiri sendiri maupun saling terhubung dengan ruangan-ruangan lain sebagai hasil proses “pelarutan” oleh air maupun aktivitas geologi yang terjadi pada suatu daerah. Gua yang dikenal secara luas oleh masyarakat umum di Indonesia sebagian besar berupa gua-gua kapur, disebut demikian karena gua-gua ini terbentuk di wilayah yang notabene sebagian besar tersusun oleh batukapur (dalam istilah geologi disebut batugamping). Selain terbentuk di daerah kapur, gua juga dapat terbentuk pada daerah vulkanik (atau daerah yang tersusun oleh batuan asal gunung api), biasanya gua-gua vulkanik ini muncul sebagai lorong-lorong yang dulunya merupakan jalan aktivitas magma yang gagal ketika hendak keluar menuju permukaan.

Gua pada batukapur terbentuk akibat aktivitas air purba, secara mudahnya gua-gua batukapur tersebut ada yang terbentuk ketika suatu tempat lokasi gua tersebut ada masih berada dibawah level air tanah (disebut sebagai zona phreatik) dan ada gua-gua batukapur yang terbentuk setelah lokasinya berada di atas level air tanah (zona vadose).

Kenapa gua-gua ini bisa terbentuk ?

Batugamping tersusun atas mineral-mineral yang oleh ahli kebumian disebut sebagai mineral karbonat (rumus kimianya CaCO3), mineral ini memiliki sifat reaktan terhadap larutan asam (sebagai gambaran sederhana batugamping akan berbuih dan tergerus habis/larut ketika bersentuhan dengan larutan asam). Air yang ada di alam ini selalu mengandung asam meskipun memiliki kadar yang berbeda-beda, termasuk air hujan. Ketika air-air tersebut bersentuhan dengan batugamping, baik di permukaan maupun dibawah permukaan, lambat laun batugamping tersebut akan terkikis sedikit demi sedikit, dan tentunya pelarutan oleh asam ini memiliki nilai percepatan yang berbeda-beda di setiap tempatnya.

Apa yang menyebabkan berbeda ?

Kita perlu mengingat kembali bahwa bumi tersusun oleh lempeng-lempeng, seperti biskuit yang kita letakkan diatas bubur yang kental. Lempeng-lempeng tersebut di bedakan menjadi lempeng benua dan lempeng samudra, perbedaan berat jenis material penyusun kedua lempeng tersebut menjadikan lempeng samudra memiliki berat jenis yang lebih besar dari lempeng benua, sehingga dalam skala horizontal ia selalu terletak dibawah lempeng benua. Lempeng-lempeng penyusun bumi ini tidak diam, mereka bergerak secara dinamis meskipun kita tidak pernah menyadarinya. Lempeng samudra selalu terdorong mendekati lempeng benua sebagai akibat pemekaran lantai dasar samudra, sehingga karena berat jenisnya lebih besar, lempeng samudra akan menyusup kebawah lempeng benua, peristiwa inilah yang disebut sebagai subduksi (dalam bahasan lebih mendalam, subduksi ini yang kemudian menciptakan gunung api), sementara gerakan-gerakan lempeng tersebut di sebut sebagai gerak tektonik.

Batukapur/batugamping selain memiliki sifat mudah larut oleh asam, juga bersifat britle, keras tapi mudah patah (nilai elastisitasnya rendah). Gerakan-gerakan tektonik yang ada di bumi (seperti gempa tektonik misalnya) membuat batugamping ini pecah-pecah dan memiliki banyak retakan-retakan, baik retakan dalam skala besar maupun kecil. Pada tempat-tempat yang banyak retakannya inilah proses pelarutan menjadi lebih cepat dibandingkan tempat-tempat yang tidak cukup banyak memiliki retakan. Retakan pada batugamping ada yang telah mengalami pergeseran, baik kearah vertikal maupun horizontal, retakan yang telah mengalami pergeseran disebut sebagai sesar (sesar ini juga bisa terjadi wilayah manapun yang bukan batugamping) sedangkan retakan yang masih belum mengalami pergeseran disebut sebagai kekar.

Berapa lama proses pembentukan gua?

Secara sederhana proses pembentukan gua tersebut memerlukan waktu ribuan tahun, dengan melakukan penelitian yang lebih intensif kita dapat mengetahui secara pasti kapan rentang waktu sebuah gua mulai terbentuk. Karena melibatkan banyak proses, bagian per bagian gua tentunya akan memiliki nilai waktu yang berbeda-beda. Dalam sebuah penelitian yang pernah penulis ikuti di Liang Bua, Flores, kerjasama tim arkeologi nasional dengan sebuah universitas dari Australia, dengan menggunakan radioaktif dapat diketahui bahwa Liang Bua terbentuk dalam kurun waktu 9.000 – 11.000 tahun yang lalu. Kemudian peneliti yang sama juga meneliti sebuah stalaqmit di Gua Jaran, Jawa Timur memiliki umur sekitar 3000 tahun. Bayangkan betapa lambatnya proses tersebut berjalan? Jika umur rata-rata manusia 60 tahun, sebuah stalaktit yang terbilang muda saja membutuhkan 50 generasi manusia dalam proses pembentukannya.

Lalu bagaimana kita memperlakukan gua?

Banyak diantara gua-gua tersebut telah dibuka dan dikelola pemerintah menjadi tempat-tempat wisata, bahkan kehadiran gua sebagai tempat wisata bagi sebuah wilayah seperti Kebumen (dengan gua Jatijajarnya) atau Tuban (dengan gua Akbarnya) atau juga Pacitan (dengan gua Gong dan Tabuhannya) atau daerah-daerah lain seolah menjadi berkah tersendiri karena mampu mendongkrak PAD dimana gua-gua tersebut berada.

Sayangnya…belum ada satupun dari wisata gua tersebut yang dapat dijadikan percontohan sebagai wisata yang berbasis ekosistem dengan baik (atau ekowisata). Pemerintah dan Pengunjung dalam hal ini sama-sama memegang peranan, pemerintah sebagai pengelola belum mampu menggali potensi gua wisata secara maksimal, hampir semua gua yang “dijual” kepada konsumen hanya bermodalkan keindahan ornamen serta bumbu-bumbu mistis yang dibangun dari generasi ke generasi, belum menyentuh nilai-nilai ilmiah yang mampu menjual pengetahuan tentang gua secara lebih logis kepada pengunjung. Pengelola wisata gua, juga belum menyentuh aspek keamanan pengunjung seperti menyediakan perangkat perlindungan konsumen (helm, sepatu boot, dan senter), pengelola lebih tertarik membuat desain yang “over kill” daripada mempertahankan bentuk asli gua namun meningkatkan kualitas pelayanan terhadap konsumen.

Pengunjung, dalam hal ini wisatawan…juga seringkali lupa diri (atau memang belum tahu nilai historis sebuah gua wisata) hingga berbuat vandalis (kerusakan), seperti mencoret-coret dinding gua, melempar-lempar lumpur di dinding gua, bahkan mengambil ornamen tertentu sampai meninggalkan sampah sembarangan.

Alangkah bahagianya jika suatu saat kita membawa anak istri kita berwisata ke sebuah gua, dimana lingkungan guanya masih asli dengan perlengkapan perlindungan diri yang memadai, serta ditemani dengan guide profesional yang mampu memenuhi kebutuhan ilmiah (rasa keinginantahuan) anak kita tentang bagaimana gua tersebut bisa terbentuk, tentang ornamen-ornamen, tentang binatang-binatang gua, dengan disisipi cerita-cerita mistis sebagai bahan selingan selama penelusuran.

“MAMPUKAH ANGAN-ANGAN KECIL INI TERWUJUDKAN…?”
Diposkan oleh AB Rodhial Falah
Selengkapnya...

Bahaya Penelusuran

Sebagai lingkungan yang asing bagi manusia, gua tentu saja menyimpan berbagai potensi bahaya yang harus diwaspadai oleh siapa saja yang hendak menelusurinya, tak terkecuali oleh mereka yang paling berpengalaman sekalipun. Berbagai faktor bahaya yang sering dikemukakan dalam berbagai teori kegiatan alam bebas selalu ber-unsur pada 2 hal yang secara umum dikenal sebagai Objektif Danger (bahaya yang berasal dari lokasi kegiatan) dan Subyektif Danger (bahaya yang berasal dari diri sendiri). Kenyataan dilapangan membuktikan bahwa potensi bahaya yang berasal dari diri sendiri memiliki perbandingan lebih besar terjadi daripada potensi bahaya yang berasal dari gua sebagai lokasi kegiatan, namun tidak berarti kita boleh memandang remeh potensi bahaya yang di miliki oleh sebuah gua, dalam kegelapan dan kesunyiannya…sebuah gua bisa saja menyimpan sesuatu yang mematikan tanpa kita sadari.


Teknik Penelusuran Wajib Di Miliki & Di Kuasai

Sebagai antisipasi terhadap potensi bahaya yang bisa muncul dari diri sendiri, seseorang yang berniat ingin menelusuri gua hendaknya membekali diri dengan pengetahuan teknik penelusuran gua, baik teknik penelusuran gua horizontal maupun vertikal.

Untuk sekedar bisa memasuki gua dengan aman dan nyaman (tanpa ada misi tertentu seperti pemetaan gua, memotret, membuat film, tindakan penyelamatan, dsb), seorang calon penelusur gua diharapkan menguasai ketrampilan gerak seperti berjalan biasa (walking), berjalan membungkuk (bear walking), merangkak (crawling), merayap (creeping), merayap melewati bongkah besar dilorong sempit (squezing) dan berjalan jongkok (ducking), kelihatannya sepele…namun jangan salah, jika kita tidak biasa melakukannya (atau setidaknya tidak biasa melatih kelenturan otot-otot tubuh kita) dijamin akan merupakan siksaan tersendiri selama melakukan “aktivitas-aktivitas biasa” tersebut di dalam gua, bahkan ketika kita harus melakukannya dalam durasi yang cukup lama, seperti ketika kita harus merangkak atau merayap atau jalan jongkok sejauh 2 kilometer dalam kondisi lorong berlumpur.

Kondisi lorong gua yang bervariasi juga menuntut kita untuk menguasai berbagai gerakan dasar pemanjatan tebing, seperti berjalan diantara celah yang dalam (bridging dan chimneying), juga teknik-teknik pegangan seperti laybacking, undercuting, jamming, mantleselfing hingga kemampuan rock climbing dalam arti sebenarnya.

Ketika gua yang akan ditelusuri berupa lorong-lorong vertikal, ketrampilan SRT (single rope technique) dan simpul harus dilatih sedemikian rupa, hingga semua ketrampilan tersebut menjadi kebiasaan dan gerak reflek kita akan terbentuk serta terarah dengan benar. Dalam kondisi panik dan tertekan, seorang penelusur gua yang sedang bergantung pada seutas tali, tanpa memiliki pengendalian emosi yang baik dan gerak reflek yang terarah dengan benar, sering berbuat sesuatu yang konyol sehingga berakibat buruk bagi keselamatan yang bersangkutan.

Bahkan seorang yang memiliki tingkat mahir sekalipun, sebaiknya melakukan refresing teknik SRT setidaknya sehari atau dua hari sebelum kegiatan penelusuran dilakukan.


Waspada Pada Lorong Berair

Dalam kondisi tertentu, tak jarang seorang penelusur gua menemukan lorong berair berupa kolam-kolam yang tak jelas berapa dalamnya, bahkan sungai-sungai bawah permukaan baik yang berarus tenang maupun berarus liar. Tentu saja kemampuan berenang menjadi kebutuhan vital dalam kasus ini. Jika kita biasanya berenang menggunakan pakaian renang, dalam penelusuran gua berenang akan berubah menjadi sebuah aktivitas yang cukup memakan energi, perangkat keamanan yang kita kenakan seperti sepatu boot, coverall (pakaian penelusuran yang mirip seragam mekanik/wearpack), helm serta alat penerangan tentu saja akan membuat kita sedikit kerepotan. Mengenakan pelampung yang baik dan layak akan menjadi solusi terbaik meskipun kita memiliki kemampuan berenang bagus, bentukan lorong yang sempit dengan atap rendah terkadang membatasi gerakan kita, juga barang-barang yang kita bawa seperti tas (tacklebag) yang berisi logistik maupun box perlengkapan pemetaan atau peralatan fotografi.

Scouting, istilah yang dikenal dalam kegiatan arung jeram ketika membaca arus utama sungai, merupakan salah satu kemampuan yang sebaiknya dimiliki oleh penelusur gua ketika hendak menelusuri sungai bawah tanah yang berarus kuat. Bentukan dinding sungai di dalam gua tidak berbeda jauh dengan sungai di permukaan, istilah undercut yang memiliki arus hidrolik akan banyak ditemui oleh penelusur gua, belum lagi jika ditambah dengan bebatuan runcing yang menjadi ciri khas batugamping ketika tergerus oleh arus sungai. Perahu atau kayak yang sering kita pakai, sebaiknya dikendalikan oleh skipper terlatih jika tidak ingin terkoyak oleh bebatuan runcing tersebut, selain itu stalaktit yang menggantung di atap gua, terkadang menjadi ancaman tersendiri ketika ujung-ujungnya yang tajam menjuntai hingga menyentuh permukaan air.

Banjir, Monster Menakutkan Di Lorong Bawah Tanah

Musim hujan biasanya membuat penelusur gua kebanyakan memilih “gantung coverall” daripada melakukan aktivitas caving. Logikanya sederhana, gua yang semula berfungsi sebagai zona larian air dari permukaan menuju bawah permukaan, akan kembali menjadi fungsinya semula selama musim hujan berlangsung, terutama gua-gua yang memiliki entrance di dasar-dasar lembah. Seberapa besar banjir didalam gua sebenarnya dapat di monitor dari berapa luas daerah tangkapan air hujan dilokasi entrance berada, juga dengan melihat jejak-jejak banjir di dalam gua, biasanya berupa sampah atau ranting-ranting yang menempel di dinding hingga atap gua.

Seorang penelusur, (jika terpaksa caving di musim hujan) sebaiknya melakukan orientasi detail terhadap hal tersebut diatas, juga harus mampu menentukan tempat-tempat yang dirasa aman ketika banjir sewaktu-waktu datang menerjang. Persiapan logistik darurat mesti diperhitungkan, karena kadang ketika banjir datang dan kita terjebak di “tempat aman” bisa jadi akan memakan waktu berhari-hari hingga air kembali normal. Kepekaan intuisi seorang penelusur bisa jadi akan menyelamatkan seluruh anggota tim, seperti mengenali tanda-tanda ketika banjir datang, air yang mulai berubah menjadi lebih keruh, bau lumpur pekat yang menyengat, hingga suara gemuruh yang menciutkan nyali. Namun, terkadang intuisi kita tak mampu memberikan sinyal apa-apa ketika banjir mengancam, hingga semuanya serba terlambat dan kita hanya bisa menyerah pada nasib dan keberuntungan semata.

Batu-Batu Pun Bisa Runtuh

Dinding dan atap gua tersusun atas batuan gamping yang memiliki sifat britle, keras tapi mudah patah, sehingga memiliki pola-pola retakan sedemikian rupa yang tidak semua dari kita menyadarinya. Sebagai bagian dari batuan sedimen, batugamping ada yang bersifat masif (pejal) dan ada yang memiliki bidang-bidang perlapisan, yang membuatnya seperti kue lapis. Ada batugamping yang berlapis tipis-tipis dan sejajar atau dikenal dengan laminasi, tapi ada juga yang berlapis tebal-tebal membentuk bedding. Batuan sedimen penyusun gua ini tidak begitu saja terendapkan tanpa gangguan apapun, Pada daerah yang memiliki banyak struktur geologi, tentunya akan memiliki susunan batugamping yang porak-poranda, misalkan saja pada daerah-daerah yang terpotong oleh sesar.

Kembali pada kedetailan orientasi seorang penelusur, gua yang terletak pada daerah yang memiliki sesar, seorang penelusur akan banyak melihat reruntuhan bebatuan dan banyak diantara boulder atau bongkah batu justru masih tergantung diatap-atap gua atau dinding gua., biasanya bebatuan yang siap jatuh tersebut hanya terganjal oleh bebatuan lain yang lebih kecil, bahkan hanya terganjal oleh lumpur. Kondisi seperti ini juga dimungkinkan ketika gua terbentuk oleh proses runtuhan (collapse doline) dan proses pelarutan (solutional doline)

Jatuhnya bebatuan yang menggantung diatap atau di dinding gua tersebut, bisa dipicu oleh getaran yang cukup besar, seperti gempa, atau bahkan hanya oleh gema suara penelusur yang terlalu berisik.

JANGAN PERNAH MELEPASKAN HELM yang kita kenakan akan menjadi pilihan bijak ketika kita berada dalam gua, jika kita terpaksa akan membuka helm untuk keperluan tertentu, carilah tempat yang benar-benar dirasa aman dari potensi runtuhan.

Dalam beberapa kasus, seorang penelusur yang memegang disiplin tetap menggunakan helm penelusuran, ketika sebuah batu menimpanya, beberapa ada yang selamat tanpa luka sedikitpun, dan beberapa ada yang mengalami luka serius, karena tulang leher dan tulang punggungnya mengalami dislokasi atau patah, karena memang tulang kita tidak didesain untuk menerima beban kejut yang besar dari sebuah batu yang berat.
AB Rodhial Falah
Selengkapnya...

Awas Binatang Berbisa

Dalam sebuah ekpedisi pendataan dan pelacakan sistem hidrologi karst akhir tahun 2006 lalu di kawasan karst Grobogan - Jawa Tengah, saya sempat terperangah ketika menelusuri sebuah gua yang ternyata menjadi (semacam) kerajaan ular. Tidak tanggung-tanggung, dalam gua itu puluhan ekor ular berdiam dan tersebar di beberapa titik, mulai dari mulut gua (yang dikenal sebagai zona terang), ruangan di bawah mulut gua (atau dikenal sebagai zona peralihan, kebetulan gua itu tergolong gua vertikal) hingga jauh di dalam lorong yang dikenal sebagai zona gelap abadi.

Beberapa jenis ular yang mampu saya kenali rata-rata memiliki racun tinggi, seperti ular welang (bungarus fasciatus), ular bandotan tanah (Vipera russelli) dan ular kobra (Naja Sputatrix). Diantara mereka ada juga jenis ular pembelit seperti ular sanca kembang (Python reticulatus) yang ukurannya sudah sebesar lengan orang dewasa.

Yang menggelitik penulis dan beberapa rekan penelusur dari ASC (Acintyacunyata Speleological Club) adalah beberapa teori yang ada tentang biospeleologi selama ini selalu menyebutkan bahwa ular adalah biota yang masuk pada kategori trogloxene alias binatang tamu, dimana siklus hidupnya tidak berlangsung sepenuhnya didalam gua. Paling sial, jika ia berada jauh kedalam zona gelap abadi, kemungkinan karena faktor accidental, seperti terjatuh atau terbawa banjir. Menyimak perilaku mereka, seperti tingkat agresivitas ketika melihat cahaya, ular-ular ini sepertinya “adem ayem” saja, seperti bilang “Asal jangan senggol gue aja, lu jual…gua beli deh” begitu kira-kira gambaran sederhananya.

Hipotesa sementara, ular-ular yang melimpah ini barangkali sudah memiliki tingkat adaptasi pada lingkungan yang cukup mapan, diimbangi dengan daya dukung makanan yang melimpah seperti katak dan kelelawar. Untuk lebih jelasnya, kajian yang lebih mendalam perlu dilakukan lebih lanjut terhadap fenomena ini (penulis hanya memiliki pengetahuan sedikit tentang biota dan perilakunya).

Selain ular, binatang seperti kalajengking dan lipan juga berkali-kali muncul dalam perjalanan dilorong bawah tanah. Sengatan kalajengking atau lipan tidak kalah menyakitkannya dibandingkan gigitan ular, meskipun jarang menyebabkan kematian.

Uropighi atau sering dikenal sebagai Psedoscorpion dengan semprotan asam cukanya tergolong biota yang patut kita waspadai, jika kita gegabah bisa saja mata kita dijadikan pedih dan buta sesaat akibat terkena semprotan cairan dari ekornya.

Catatan :

- Ular Kobra (Naja Sputatrix), memiliki racun neurotoksin yang menyerang syaraf dan racun hemotoksin yang merusak jaringan darah yang menyebabkan rasa terbakar dan rasa sakit yang luar biasa, apabila tidak lekas tertolong, korban bisa meninggal dunia. Ular Kobra cenderung agresif dibandingkan ular berbisa lainnya. Warnanya hitam legam, bila merasa terancam akan menegakkan badan dan mengembangkan lehernya seperti di film-film India.

- Ular Welang (Bungarus Fasciatus), memiliki racun neurotoksin. Tercatat sebagai pembunuh paling mematikan dibandingkan Kobra. Sebab utamanya adalah kecenderungan korban tidak sadar kalau telah tergigit ular jenis ini. Penderita baru menyadari jika telah merasakan sesak nafas, sementara racunnya telah menyebar ke seluruh tubuh. Ular ini tergolong pemalu dan sulit di deteksi keberadaannya secara sekilas pandang. Warna gelang-gelang hitam putih, dan ukurannya biasanya tidak melebihi besar ibu jari, namun hati-hati, jangan pernah menyentuh ular ini tanpa menggunakan tongkat. Ular Welang senang berdiam di dinding-dinding gua.


AB Rodhial Falah
Yogyakarta, Indonesia
Penelusur & Praktisi Fotografi Goa
Selengkapnya...

Minggu, 09 November 2008

pola diksar yang tepat??

sebuah organisasi memerlukan regenerasi agar roda organisasi dapat terus berjalan sesuai dengan apa yang mendasari terbentuk nya organisasi tersebut. MAPALA merupakan salah satu
organisasi kepecinta alaman yang banyak berkegiatan di alam bebas.berawal dari satu hobi atau kegemaran yang sama maka terbentuk lah wadah atau organisasi.
MAPALA dalam perekrutannya memiliki beberapa macam tahap agar dapat menjadi anggota nya.
tiap tiap MAPALA mempunyai masing masing cara dalam tahap pengrekrutannya.
Pedidikan dasar atau lebih sering di sebut DIKSAR merupakan tahap yang harus dilalui agar
dapat menjadi salah satu anggota MAPALA.
tujuan dari diksar itu sendiri adalah agar calon anggota tersebut memiliki basic dalam organisasi kepecinta alaman.
tapi apakah hanya sekedar agar calon anggota tersebut memiliki basic?
apa yang didapat kan nya dari DIKSAR itu?
DIKSAR itu sendiri memiliki sistim tersendiri dan juga bebagai macam adat dan adab..
apakah ketika calon tersebut berada dalam sistim DIKSAR dapat menerima materi dengan maksimal?

sudah menjadi rahasia umum bahwa sistim diksar mapala merupakan hampir mendekati semi militer.
ketika kita berada di bawah tekanan, ku rasa kita tidak dapat menerima sesuatu dengan maksimal.
dan itu merupakan bawaan tiap manusia.kecuali dia telah terbiasa melewati keadaan di bawah tekanan.
bagai mana dengan kelelahan ? ketika tubuh dalam kondisi lelah kerja otak berkurang lebih dari 30 %.

penguasaan materi yang di berikan pada saat diksar tak semuanya dapat di terima dengan baik oleh anggota.
seperti orang bijak mengatakan kerja 100% belum tentu dapat 100%
jadi apa yang di cari dari diksar tersebut?

diksar bukan sekedar pemberian materi tentang keoraganisasian tetapi juga bertujuan yang lain.

pembentukan karekter mungkin? loyalitas organisasi? jati diri?pola pikir? ikatan batin antar anggota?
menurut ku itu semua merupakan tujuan dari diksar itu sendiri.
tapi muncul pertanyaan,sejauh mana targetan itu telah di capai?

sulit untuk di kesampingkan bahwa fakta yang ada adalah seleksi alam lebih berperan dalam pembentukan semua targetan itu.
pasca diksar lebih berpengaruh di bandingkan pada saat diksar itu sendiri. Selengkapnya...

Kamis, 06 November 2008

Gua suruman besak


ini merupakan entrace dari gua suruman besak, gua suruman besak meupakan gua horizontal yang memiliki beberapa entrace.
terdapat 2 mulut vertikal dan 2 mulut horizontal.
secara geografis goa suruman besak terletak di kawasan karst kikim lahat dengan kondisi alam perbukitan.dan juga merupakn kawasan karst tertutup.

pondok ini terdapat tepat di samping atas mulut gua suruman besak,kawan kawan legua mengunakannya sebagai tempat camp.

entrace gua suruman besak memiliki chamber yang cukup besar saat pas ketika kita masuk. memiliki diameter 30 an meter dengan tinggi atap gua mencapai 80-an meter.
di chember ini terdapat mulut horizontal yang terdapat diatas nya. terlihat sublinght memancar di kegelapan.
Selengkapnya...

Kebersamaan sungguh sangat terasa indah......
aku mengenal kawan 2 legua dengan berbagai macam karakter
dan aku akan tetap terus mencoba memahami mereka....

legua nian

legua nian

light

light
Powered By Blogger

Pilar Bumi

Pilar Bumi

Stalagmit

Stalagmit

interior goa

interior goa
allah menciptakan keindahan dalam kegelapan abadi.

Followers

Blog Archive

 

Copyright © 2009 by Legua Caving & Speleologi